BUMDes Trijaya Desa Wadeng Sidayu Gresik Tancap Gas: 600 Ayam Petelur + Kelola Pasar Jadi Mesin Ekonomi Baru
GRESIK–http://buruSergapINFO.my.id
Dari sekadar wacana, kini jadi nyata. Badan Usaha Milik Desa Trijaya di Desa Wadeng, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, terus berekspansi dan membuktikan diri sebagai penggerak ekonomi warga. Di bawah kepemimpinan Kades Imam Khoiri dan Direktur BUMDes Edi Setiantoro, Trijaya kini mengelola 600 ekor ayam petelur sekaligus memegang kendali Pasar Desa, Kedai, Pujasera, layanan PPUB, hingga pengelolaan sampah.


Tanggal 24 Juni 2026 menjadi catatan baru, karena geliat usaha BUMDes Trijaya mulai dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat Desa Wadeng.
Langkah berani dimulai dari sektor peternakan. BUMDes Trijaya kini memelihara 600 ekor ayam petelur. Setiap hari, telur segar dihasilkan langsung dari kandang desa, tanpa rantai distribusi panjang.
“Konsepnya sederhana: warga Wadeng makan telur produksi warga Wadeng juga. Harganya lebih stabil, kualitas terjamin, dan keuntungannya muter di desa lagi,” jelas Edi Setiantoro, Direktur BUMDes Trijaya saat ditemui di lokasi kandang, Selasa 24/6/2026.
Hasil telur tidak hanya dijual ke warga, tapi juga disetor ke kedai dan pujasera milik BUMDes. Ke depan, Edi menargetkan telur Trijaya bisa masuk ke warung-warung sekitar Sidayu. Targetnya jelas: menambah PADes dan menciptakan lapangan kerja untuk warga sekitar kandang.
Tidak berhenti di peternakan, BUMDes Trijaya juga diberi kepercayaan penuh oleh Pemdes Wadeng untuk mengelola aset desa yang selama ini vital:
Pengelolaan Pasar Desa Penataan lapak lebih rapi, iuran retribusi transparan, dan keamanan ditingkatkan. Pedagang merasa lebih nyaman berjualan.
Kedai & Pujasera Jadi pusat kuliner UMKM warga Wadeng. Ibu-ibu PKK dan pelaku usaha mikro bisa jualan tanpa sewa mahal.
Pelayanan PPUB BUMDes bantu urus administrasi air bersih, sehingga warga tidak perlu bolak-balik ke kantor kecamatan.
Pengelolaan Sampah Armadanya keliling, iuran warga dikelola BUMDes. Desa jadi lebih bersih dan ada nilai ekonominya dari bank sampah.
Filosofinya semua yang jadi kebutuhan dasar warga, kita coba kelola lewat BUMDes. Kalau dikelola profesional, desa yang untung,” tegas Kades Imam Khoiri.
Imam Khoiri menekankan, ekspansi usaha BUMDes Trijaya tidak lepas dari prinsip tata kelola yang bersih. Setiap unit usaha wajib lapor keuangan ke BPD setiap 3 bulan. Papan informasi BUMDes juga dipasang di balai desa.
“Warga berhak tau: modal dari mana, untung berapa, dipakai untuk apa. Kalau transparan, kepercayaan warga naik, BUMDes jadi kuat,” ujarnya.
Edi Setiantoro menambahkan, seluruh keuntungan BUMDes diputar lagi. Sebagian untuk operasional, sebagian untuk tambahan modal usaha baru, dan sebagian lagi disetor ke kas desa sebagai PADes.
Dengan 6 unit usaha jalan sekaligus, BUMDes Trijaya menargetkan jadi tulang punggung ekonomi Desa Wadeng 3 tahun ke depan. Dari peternak ayam yang direkrut, ibu-ibu penjual di pujasera, sampai petugas sampah, semua adalah warga Wadeng sendiri.
“Kami tidak mau BUMDes cuma jadi plang nama. Harus ada efeknya ke dapur warga. Kalau 600 ayam ini berhasil, tahun depan kita tambah lagi. Kalau pasar rame, pedagang Wadeng yang sejahtera,” tutup Edi penuh semangat.
Kisah BUMDes Trijaya Desa Wadeng membuktikan desa bisa maju kalau kepala desa, pengurus BUMDes, dan warga satu visi. Modalnya keberanian, jalannya transparansi, hasilnya kesejahteraan.
Pembawa berita Hariyono
Penyunting / penulis
Kantor Redaksi Media buruSergapINFO
Direk TB Hendy yustana



