
Mesir _ http://BURUSERGAPinfo.my.id
Pada masa itu, Mesir berada di bawah kekuasaan seorang raja yang sangat zalim: Firaun. Ia bukan hanya mengaku sebagai penguasa tertinggi, tetapi juga berani menyebut dirinya sebagai tuhan. Kekejamannya terkenal ke seluruh negeri, terutama terhadap Bani Israil, yang dijadikannya budak dan diperlakukan dengan kejam.
Suatu malam, Firaun bermimpi melihat api besar datang dari arah Bani Israil, lalu api itu membakar istana dan rakyat Mesir, namun tidak menyentuh sedikit pun Bani Israil. Para ahli nujum dan penasihat istana menafsirkan mimpi itu sebagai pertanda akan lahir seorang anak laki-laki dari Bani Israil yang kelak menjadi sebab kehancuran kekuasaan Firaun.
Mendengar tafsir itu, Firaun murka dan takut. Ia pun mengeluarkan perintah kejam:
setiap bayi laki-laki dari Bani Israil harus dibunuh, sementara bayi perempuan dibiarkan hidup. Bayi yang Diselamatkan Allah
Di tengah ketakutan itu, lahirlah seorang bayi laki-laki dari keluarga Bani Israil—dialah Musa عليه السلام. Ibunya sangat cemas. Namun Allah mengilhamkan kepadanya agar menyusui Musa, lalu ketika bahaya datang, meletakkannya ke dalam peti dan menghanyutkannya di Sungai Nil, dengan janji bahwa Allah akan mengembalikannya dalam keadaan aman.
Dengan hati bergetar, sang ibu melaksanakan perintah itu. Peti kecil berisi bayi Musa hanyut mengikuti arus sungai, hingga akhirnya terdampar di sekitar istana Firaun
Bayi di Istana Musuhnya
Peti itu ditemukan oleh istri Firaun, Asiyah, seorang wanita beriman yang lembut hatinya. Saat membuka peti dan melihat wajah bayi Musa, hatinya langsung tersentuh.
Ia berkata kepada Firaun:
> “Ia adalah penyejuk mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, boleh jadi ia bermanfaat bagi kita atau kita jadikan ia anak.”
(QS. Al-Qashash: 9)
Tanpa sadar, Firaun justru memelihara anak yang kelak akan menghancurkan kekuasaannya sendiri. Musa Kecil Menarik Janggut Firaun
Suatu hari, saat Musa masih kecil dan berada di pangkuan Firaun, terjadi peristiwa yang menggemparkan istana. Dengan polosnya, Musa kecil meraih janggut Firaun dan menariknya dengan kuat.
Firaun terkejut dan marah besar. Wajahnya memerah, dadanya bergemuruh. Ia merasa dihina oleh seorang anak kecil. Dengan suara penuh amarah, Firaun berkata:
> “Ini pasti anak yang akan menghancurkan kerajaanku! Bunuh dia sekarang!”Para pengawal pun bersiap melaksanakan perintah itu
Ujian Bara Api dan Permata
Namun, Asiyah segera maju menenangkan Firaun. Dengan kebijaksanaan dan kelembutan, ia berkata:
> “Wahai Raja, dia masih bayi. Ia belum mengerti apa yang dilakukannya. Jika engkau ragu, ujilah dia.”
Asiyah lalu meminta dua benda: bara api dan permata yang berkilau. Keduanya diletakkan di hadapan Musa kecil. Jika Musa memilih permata, berarti ia memiliki kecerdasan dan kesengajaan. Namun jika ia memilih bara api, berarti ia hanyalah bayi yang belum paham.
Musa kecil awalnya meraih permata, tetapi Allah menakdirkan tangannya beralih ke bara api. Ia memasukkan bara itu ke dalam mulutnya, hingga lidahnya terluka.
Sejak saat itu, ucapan Musa menjadi sedikit pelo, sebagaimana kelak ia sebutkan dalam doanya:
> “Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku.”
(QS. Thaha: 27)
Firaun pun mengurungkan niatnya membunuh Musa.Pelajaran Besar dari Kisah Ini Allah menyelamatkan Nabi Musa di rumah musuhnya sendiri. Firaun membesarkan orang yang kelak akan menenggelamkannya. Kekuasaan manusia tak pernah mampu mengalahkan takdir Allah.
Kisah ini mengajarkan bahwa:
Rencana Allah selalu lebih kuat dari tipu daya manusia
Anak kecil pun bisa menjadi bagian dari rencana besar Ilahi
Kesabaran dan keimanan akan selalu berbuah keselamatan
#KisahIslami





