Pulang Bukan untuk Berbuka, Melainkan Menjemput Ajal

Boc4h 12 tahun itu melangkah pulang dengan hati riang. Di kepalanya, sudah tersusun rapi beragam cerita dari pesantren untuk ayah tercinta. Tentang hafalan ayat yang makin lancar, kawan asrama yang jenaka, hingga kisah klasik singlet dan sandal yang hilang entah ke mana.
Nizam ingin berbagi tawa, ingin merasakan hangatnya rumah di bulan suci. Namun m4l4ng, semua cerita itu terkunci selamanya. Belum sempat seteguk air buka puasa melewati tenggorokannya, ny4w4 boc4h tak b3rdos4 ini harus mel4y4ng di tangan orang yang seharusnya menjadi pelindungnya: ibu tirinya sendiri.
Trag3d! Nizam adalah tamparan k3r4s bagi kita semua. Sebuah pengingat pahit bahwa benar adanya: sebagian ibu tiri memang hanya mencintai ayahnya, bukan anaknya.
Bagi para orang tua yang takdir pernikahannya harus terhenti di tengah jalan, mohon jangan pernah abai. Jangan terlalu terlena dengan “cinta baru” hingga menutup mata pada keselamatan d4r4h d4g!ng sendiri. Pasangan baru Anda mungkin menerima masa depan Anda, tapi belum tentu mereka bisa menerima “masa lalu” yang berwujud 4n4k bawaan.
Jangan biarkan ada Nizam-Nizam lain yang menjadi k0rb4n karena kel4l4ian kita dalam mengawasi. Cintailah orang baru secukupnya, tapi cintailah 4n4k Anda sepenuhnya.
Selamat jalan, Nizam. Surga adalah tempat bermainmu yang paling aman sekarang. 🥀
Sumber Berita Medsos Facebook
Editing TB Hendy yustana





