30 Tahun Terabaikan: Jalan Provinsi Sumut Simpang PTPN 4 Sibodak–Sosa Timur Rusak Parah, Jembatan Aek Tinga Tak Layak Pakai tapi Luput dari Perhatian

Padang Lawas | BurusergapINFO my.id

Foto : Jln Tanjung Ale menuju Transpir 1A Sosa Timur
Foto : Jln Tanjung Ale menuju Transpir 1A Sosa Timur

Sudah 3O tahun warga yang melintasi Jalan Provinsi Sumatera Utara ruas Simpang PTPN 4 Sibodak menuju Sosa Timur menjerit meminta perhatian pemerintah. Kondisi infrastruktur jalan yang menjadi urat nadi ekonomi masyarakat itu kian hari kian memprihatinkan. Sabtu, 18 April 2026

Pantauan di lapangan burusergapinfo my.id,  menunjukkan badan jalan masih berupa hamparan bebatuan lepas. Saat musim kemarau, debu pekat dan batu tajam menyulitkan pengendara. Ketika hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur setinggi mata kaki orang dewasa. Kendaraan roda dua maupun roda empat kerap terjebak, bahkan tidak sedikit yang mengalami kerusakan.

Menurut keterangan sejumlah tokoh masyarakat Sosa Jae, kerusakan jalan ini sudah berlangsung sejak 1989. “Dari saya masih bujang sampai sekarang sudah punya cucu, jalan ini ya begini saja. Batu semua. Kalau hujan, kami dorong kereta lewat lumpur,” ujar.warga Desa Transpir 1A

Jalan tersebut merupakan akses utama warga dari Simpang PTPN 4 Sibodak, Sosa Jae, menuju Desa Transpir 1A dan desa sekitarnya. Selain digunakan masyarakat umum, jalur ini juga menjadi lintasan anak sekolah, distribusi hasil pertanian sawit dan karet, serta akses layanan kesehatan darurat. Saat kondisi terparah, ambulans tidak bisa melintas dan warga terpaksa menandu pasien sejauh 3 km ke titik jalan yang lebih baik.

 

Foto : Jembatan Aek Tinga { Conoco } keadaan nya darurat
Foto : Jembatan Aek Tinga { Conoco } keadaan nya darurat

Belum selesai keluhan soal jalan, warga juga menyoroti Jembatan Aek Tinga yang berada di ruas yang sama. Jembatan yang akrab disebut warga sebagai ‘Jembatan Conoco’ itu kondisinya sudah tidak layak pakai. Lantai jembatan banyak yang keropos, besi pengaman hilang, dan tiang penyangga terlihat miring.

“Setiap hari kami waswas kalau lewat. Kalau Sungai Aek Tinga meluap, jembatan ini bisa hanyut kapan saja. Tapi mau lewat mana lagi? Ini satu satunya akses,” kata Ramli Sinaga warga Lorong 1 Lubuk Bunut.

Warga menyebut jembatan tersebut terakhir disentuh perbaikan besar saat perusahaan migas masih aktif di wilayah itu puluhan tahun lalu. Setelah itu tidak ada lagi perawatan berarti dari pemerintah.

Karena statusnya Jalan Provinsi, warga menilai Pemerintah Provinsi Sumatera Utara seharusnya menjadi pihak yang paling bertanggung jawab. Namun hingga 30 tahun, belum ada perbaikan menyeluruh. Warga mengaku sudah berulang kali menyampaikan aspirasi melalui kepala desa dan camat ke Pemkab Padang Lawas, namun terbentur kewenangan.

“Pemkab selalu bilang itu jalan provinsi. Tapi Pemprov Sumut juga tidak pernah turun ke sini. Kami ini seperti dianaktirikan,” keluh warga

Keluhan warga bukan tanpa alasan. Kerusakan jalan berdampak langsung pada ekonomi. Harga angkut TBS sawit dari Transpir 1A menjadi lebih mahal Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per ton dibanding desa yang jalannya bagus. Hasil karet petani sering terlambat ke pasar karena truk tidak bisa masuk saat hujan.

Masyarakat mendesak Pemprov Sumut segera memprioritaskan ruas Simpang PTPN 4 Sibodak–Sosa Timur dalam APBD 2026 atau 2027. Mereka meminta pengaspalan permanen dan pembangunan ulang Jembatan Aek Tinga dengan konstruksi yang aman.

“Kami tidak minta muluk muluk. Aspal saja jalannya dan ganti jembatannya. Sudah 30 tahun kami bersabar. Jangan tunggu ada korban jiwa baru diperbaiki,” tegas Sarman.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Provinsi Sumatera Utara maupun Pemkab Padang Lawas terkait keluhan warga tersebut.

Reporter : Subandi