Surabaya,-burusergapinfo.my.id.-“1 Oktober 2026 Sejarah tidak pernah kebetulan. Pada hari ketika seluruh bangsa memperingati Kesaktian Pancasila, di tempat yang paling sakral bagi pergerakan kebangsaan, sebuah mandat sejarah telah ditunaikan.
Museum Hos Tjokroaminoto, Surabaya. Dari rumah inilah Bung Karno muda menimba ilmu keislaman, keindonesiaan, dan kemarhaenan. Dari rahim rumah inilah, sang Guru Bangsa melahirkan dua arus besar pergerakan. Hari ini, 1 Oktober 2026, di hari Sakti Pancasila, rumah itu kembali menjadi saksi.

Putra Sulawesi Selatan, Syarifuddin, secara resmi menerima Bendera Pataka Partai Nasionalis Nusantara (PNN) dari Dewan Pimpinan Nasional. Upacara sakral deklarasi yang dimulai dari Museum Hos Tjokroaminoto dan dilanjutkan ke Hotel Singaraja Surabaya ini bukan sekadar seremoni partai baru. Ini adalah Napak Tilas Ideologis.
FILOSOFI PERAHU PINISI DAN PANCASILA

Mengapa Bumi Celebes disebut Perahu Pinisi PNN?
Dalam kosmologi Bugis-Makassar, Pinisi bukanlah sekadar perahu. Pinisi adalah filosofi hidup: Sompe’na Maja, Lopi’na Pinisi_. Berani mengarungi badai, pantang surut sebelum berlabuh.
Bung Karno mengajarkan Marhaenisme di Jawa, tapi semangat Marhaen itu sendiri adalah semangat pelaut Pinisi: orang kecil yang menguasai samudera, yang hidupnya tergantung pada gotong-royong, pada kekompakan awak kapal.
Pancasila itu sakti karena ia seperti Pinisi. Lima silanya adalah lima papan utama yang merekatkan lambung kapal bernama Indonesia. Jika satu papan lepas, kapal akan karam.

Syarifuddin tidak hanya menerima bendera kain. Ia menerima tanggung jawab untuk menakhodai kapal itu di Timur Indonesia. Tugasnya berat: memastikan Pancasila tetap sakti di Bumi Celebes, di tanah yang melahirkan Karaeng Pattingalloang, Sultan Hasanuddin, dan Andi Jemma – para nasionalis sejati sebelum kata nasionalis itu ada.
Saya menerima pataka ini bukan dengan tangan, tapi dengan jiwa. Dari Guru HOS Tjokroaminoto kami belajar keikhlasan, dari Bung Karno kami belajar keberanian. Perahu Pinisi PNN akan saya layarkan. Dari Selat Makassar, kami akan kibarkan bahwa Pancasila tidak pernah dan tidak akan pernah tenggelam,” tegas Syarifuddin dengan mata berkaca-kaca saat menerima bendera di depan Museum.

MAKNA HISTORIS 1 OKTOBER*
Pemilihan tanggal 1 Oktober bukan tanpa makna. Jika G30S adalah upaya menenggelamkan kapal Indonesia, maka 1 Oktober adalah hari di mana kapal itu berhasil diselamatkan oleh kesaktian Pancasila.
Maka sangat filosofis, PNN yang lahir dari PNI , memilih hari Kesaktian untuk berlayar. Dan memilih seorang putra Celebes, putra dari peradaban maritim tertua di dunia, untuk menjadi nakhodanya di Timur.

Perjalanan dari Museum Tjokroaminoto ke Hotel Singaraja adalah simbol perjalanan ideologi: dari ajaran sang Guru, menuju pengamalan nyata dalam wadah Partai.
Kini, Pataka PNN telah berada di tangan yang tepat. Dari Surabaya, bendera itu akan menyeberangi Laut Jawa, dan akan berkibar gagah di langit Makassar, Palopo, hingga ke ujung Selayar.
Selamat berlayar, Nakhoda Syarifuddin. Ombak akan besar, tapi Pinisi tak pernah takut ombak.
PNN – Lahir dari , -Marhaen Lahirlah PNI dan dari rahim PNI Lahilah pula PNN Untuk Menjaga Kesaktian Pancasila. “(Red)” MZ.NA.
Sumber : Media Center.PNN Sulsel
Laporan : Buserinfo.Sulsel.
















