Ketika Pengabdian Kemanusiaan Dibalas Peluru di Papua, Sandiang Kaya Ndapa Namung Desak Pelaku Ditangkap dan Dihukum
Kupang —http://Burusergapinfo.my.id
Kematian tiga aparatur sipil negara (ASN) yang sedang menjalankan tugas pelayanan masyarakat di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, dalam aksi penembakan pada Rabu (9/9/2026), kembali menggugah keprihatinan publik.

Mereka datang bukan untuk berperang. Mereka datang membawa tugas, pelayanan, dan tanggung jawab negara kepada masyarakat.
Namun, pengabdian tersebut justru berakhir tragis. Tiga aparatur Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya dilaporkan tewas dalam aksi penembakan.
Ketiga korban yakni Willi Mbuik, CPNS Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT); drh. Alfonsius Albinus Mehan, dokter hewan pada Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya asal Maumere, Kabupaten Sikka, NTT; serta Aprida Rapi, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya asal Toraja, Sulawesi Selatan.
Duka atas peristiwa tersebut turut disampaikan pemuda dan mahasiswa asal Sumba Timur, Sandiang Kaya Ndapa Namung.
Bagi Sandiang, tragedi tersebut bukan sekadar persoalan kriminalitas. Ada persoalan kemanusiaan yang jauh lebih besar ketika seseorang yang sedang menjalankan tugas pelayanan justru kehilangan nyawa.
“Mereka berangkat untuk menjalankan tugas negara. Mereka bukan membawa senjata untuk melakukan kekerasan, tetapi membawa pelayanan dan bantuan pangan bagi masyarakat. Sangat menyakitkan ketika pengabdian kemanusiaan justru dibalas dengan peluru,” kata Sandiang, Kamis (10/9/2026).
Menurutnya, kematian ketiga korban merupakan duka bagi keluarga, daerah asal, masyarakat Papua, NTT, Sulawesi Selatan, sekaligus seluruh bangsa Indonesia.
Anak Muda Tidak Boleh Diam Melihat Kekerasan
Sandiang mengatakan generasi muda harus memiliki keberanian untuk bersuara ketika terjadi kekerasan terhadap manusia.
Menurutnya, sikap kritis anak muda bukan berarti memperkeruh keadaan, melainkan mendorong negara agar tidak abai terhadap keselamatan rakyat dan para pengabdi negara.
“Sebagai anak muda, kita tidak boleh terbiasa melihat kekerasan lalu menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Nyawa manusia tidak boleh kehilangan nilainya hanya karena perbedaan wilayah, kepentingan, ataupun konflik yang terjadi,” tegasnya.
Ia menilai setiap warga negara memiliki hak untuk hidup dan memperoleh perlindungan, termasuk mereka yang bertugas di daerah dengan tingkat kerawanan keamanan tinggi.
Karena itu, menurut Sandiang, negara harus mampu memastikan bahwa tugas pelayanan publik dapat berlangsung tanpa mengorbankan keselamatan para petugas.
Pelaku Harus Ditangkap, Bukan Dibiarkan
Sandiang mendesak aparat keamanan segera mengungkap secara menyeluruh kasus tersebut dan menangkap pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Ia meminta proses hukum dilakukan secara profesional, transparan, dan berdasarkan bukti, sehingga masyarakat memperoleh kepastian bahwa kasus tersebut benar-benar ditangani.
“Kami mendesak aparat segera mengungkap kasus ini, mengejar dan menangkap pelaku, kemudian memprosesnya sesuai hukum. Jangan sampai kematian tiga orang yang sedang mengabdi kepada masyarakat hanya menjadi berita duka yang kemudian dilupakan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa tuntutan terhadap penegakan hukum bukan berarti mengabaikan akar persoalan konflik di Papua.
Sebaliknya, menurut Sandiang, persoalan keamanan dan konflik harus diselesaikan dengan pendekatan yang menjunjung tinggi kehidupan manusia, hukum, keadilan, serta penghormatan terhadap masyarakat sipil.
“Kita boleh berbeda pandangan tentang banyak hal, tetapi tidak boleh berbeda dalam menghormati nyawa manusia. Kekerasan tidak boleh menjadi jalan keluar,” katanya.
Duka NTT untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) Terbaik yang Mengabdi di Papua
Sandiang menyampaikan belasungkawa secara khusus kepada keluarga Willi Mbuik dan drh. Alfonsius Albinus Mehan, dua putra NTT yang sedang mengabdikan diri di Papua.
Ia mengatakan, keberadaan keduanya di Papua menjadi gambaran bahwa semangat pengabdian orang NTT tidak dibatasi oleh jarak dan batas daerah.
“Hari ini NTT kehilangan dua putra yang sedang mengabdi jauh dari tanah kelahirannya. Mereka pergi membawa semangat pelayanan. Karena itu, duka keluarga mereka adalah duka kita bersama. Dari NTT, kami menyampaikan solidaritas dan penghormatan kepada keluarga yang ditinggalkan,” tutur Sandiang.
Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Aprida Rapi yang berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan.
“Tiga korban berasal dari daerah yang berbeda, tetapi mereka dipersatukan oleh satu hal: pengabdian kepada masyarakat dan negara. Mereka adalah anak bangsa. Karena itu, tidak boleh ada sekat antara NTT, Sulawesi Selatan, Papua, maupun daerah lainnya ketika kita berbicara tentang kemanusiaan,” tambahnya.
Negara Harus Hadir Melindungi Mereka yang Mengabdi
Lebih jauh, Sandiang meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap sistem perlindungan bagi ASN, tenaga kesehatan, tenaga pertanian, dan seluruh pekerja pelayanan publik yang bertugas di wilayah rawan konflik.
Menurutnya, pelayanan kepada masyarakat tidak boleh berjalan dengan mengorbankan keselamatan manusia.
“Negara harus hadir bukan hanya ketika terjadi tragedi, tetapi juga sebelum tragedi terjadi. Mereka yang dikirim untuk melayani masyarakat harus mendapatkan jaminan keamanan yang layak,” katanya.
Sandiang berharap tragedi tersebut menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat perlindungan terhadap masyarakat dan para pengabdi negara di Papua.
Ia juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi maupun narasi yang dapat memperkeruh suasana.
Menurutnya, kritik harus tetap disampaikan dengan kepala dingin dan berpihak pada kemanusiaan.
“Kita boleh marah atas tragedi ini, tetapi kemarahan harus diarahkan kepada penegakan hukum dan pencarian keadilan, bukan kepada kebencian terhadap kelompok atau daerah tertentu. Kita harus tetap menjadi manusia ketika menghadapi kekerasan,” tegas Sandiang.
Ia menutup pernyataannya dengan doa bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan.
“Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menerima seluruh pengabdian mereka, memberikan tempat terbaik bagi mereka, serta memberikan kekuatan dan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan. Jangan biarkan pengabdian mereka sia-sia. Tegakkan hukum, lindungi masyarakat, dan pastikan tragedi seperti ini tidak kembali terulang.”
“Mereka pergi untuk mengabdi. Mereka pulang dalam peti. Negara tidak boleh diam.”
Di terbitkan oleh
Burusergapinfo.my.id






