SULTENG (PALU),Selasa 25 Agustus 2026,— Peta politik menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Tengah (Sulteng) mulai memanas. Wacana menduetkan Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, dengan Bupati Banggai, Amirudin Tamoreka, kini bukan lagi sekadar rumor di warung kopi.
Dukungan nyata mulai mengalir dari arus bawah. Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Forum Masyarakat Bersatu (DPW Formabes) secara terbuka menyatakan harapannya agar kedua tokoh visioner ini bisa bersanding dalam kontestasi politik mendatang.
Formabes menilai, kombinasi Hadianto dan Amirudin adalah jawaban atas kebutuhan pemimpin masa depan Sulteng. Jika resmi berpasangan, duet ini diyakini akan menjadi poros kekuatan baru yang sangat diperhitungkan, bahkan berpotensi menjadi “bom atom” politik bagi kubu petahana Anwar Hafid – Reny Lamadjido (Anwar-Reny).
Diuntungkan Putusan MK, Pintu Partai Terbuka Lebar
Langkah Hadianto Rasyid dan Amirudin Tamoreka untuk maju dalam Pilgub dinilai jauh lebih mudah berkat adanya Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 60/PUU-XXII/2024. Lewat putusan monumental tersebut, MK menurunkan ambang batas (threshold) pencalonan kepala daerah oleh partai politik.
Partai politik atau gabungan parpol kini tidak lagi wajib mengantongi 20% kursi di DPRD untuk mengusung pasangan calon. Di Sulawesi Tengah, parpol hanya butuh mengamankan minimal 8,5% dari akumulasi suara sah pada pemilu legislatif.
Aturan baru dari MK ini otomatis memotong oligarki partai dan meminimalisir potensi terjadinya skenario “kotak kosong”. Hadianto dan Amirudin, yang dikenal memiliki posisi tawar tinggi, kini memiliki posisi diplomasi yang sangat kuat karena partai-partai menengah maupun koalisi partai kecil bisa langsung mengusung mereka tanpa hambatan persentase kursi yang besar.
Gelombang Dukungan Dini: Cek Ombak Menuju 2029
Walaupun gelaran Pilgub Sulteng baru akan dilaksanakan 3 tahun lagi, tepatnya pada tahun 2029, eskalasi politik di bumi Tadulako nyatanya sudah mulai bergulir kencang sejak dini. Langkah Formabes menyuarakan pasangan ini jauh-jauh hari dinilai sebagai strategi matang untuk mengunci opini publik dan membangun kesadaran pemilih (awareness) sejak awal.
Bagi para pengamat, pergerakan yang dimulai 3 tahun sebelum hari pencoblosan ini menjadi bukti bahwa poros penantang tidak ingin kehilangan momentum. Kombinasi kelonggaran aturan MK dan persiapan yang panjang dinilai sangat menguntungkan untuk memperkuat struktur relawan di 13 kabupaten/kota se-Sulteng.
Perkawinan Geopolitik Sempurna Barat-Timur
Pengamat politik lokal menilai wacana ini sebagai skenario “maut” dalam pemetaan suara di Sulteng. Hadianto Rasyid memiliki basis massa rill dan elektabilitas yang sangat kokoh di wilayah Barat, khususnya di Kota Palu, Sigi, dan Donggala.
Sementara itu, Amirudin Tamoreka merupakan figur sentral di wilayah Timur yang memegang kendali elektoral di kawasan strategis Banggai Bersaudara (Banggai, Banggai Kepulauan, dan Banggai Laut).
“Secara geopolitik, ini perkawinan yang sempurna. Barat dan Timur menyatu. Jika Formabes sudah solid bergerak di Timur dan Hadianto mengunci suara di Ibu Kota (Palu), maka peta suara petahana jelas berada dalam posisi sangat rawan,” ujar salah satu analis politik di Palu.
Modalnya Lengkap: Kuat di Birokrasi dan Finansial
Selain faktor wilayah, kedua tokoh ini memiliki kemiripan latar belakang yang menjadi nilai tambah besar: sama-sama berlatar belakang pengusaha sukses dan kepala daerah berprestasi.
* Hadianto Rasyid sukses membawa Kota Palu meraih berbagai penghargaan nasional pasca-bencana, termasuk tata kelola kebersihan dan adipura.
* Amirudin Tamoreka dikenal sebagai pengusaha migas yang berhasil menjaga stabilitas ekonomi dan pertumbuhan investasi di Kabupaten Banggai.
Kemandirian logistik dari kedua figur ini dinilai membuat mesin pemenangan mereka akan jauh lebih mandiri, agresif, dan solid bergerak di lapangan tanpa bergantung penuh pada penyandang dana luar.(Red)
(Antonius W Palunsu)






