SULTENG (MORUT) Selasa 7 September 2026 — Wakil Komite Pengurus Dana Corporate Social Responsibility (CSR) Desa Ganda-ganda, Aty Landoala, akhirnya angkat bicara [komite pengurus dana CSR]. Ia membantah keras tudingan miring yang dialamatkan kepada dirinya terkait dugaan keterlibatan dalam praktik pencucian uang pengelolaan dana CSR.
Dengan nada bicara yang memadukan humor satir dan sindiran menohok, Aty balik menyerang para pengkritik yang dinilainya hanya bermodal rumor tanpa dasar data.
“Uang apa yang saya cuci? Kalau uang dicuci tentunya robek, seperti mulut orang yang memberikan tuduhan kepada saya,” ujar Aty Landoala saat memberikan keterangan media melalui WhatsApp Selasa (7/9/2026) menanggapi isu yang telanjur menggelinding liar di tengah masyarakat.
Gugat Logika Pengkritik, Beberkan Rekam Jejak 10 Tahun
Aty meradang ketika harta kekayaan pribadinya mulai dari kepemilikan bisnis kos-kosan hingga unit mobil dikait-kaitkan dengan jabatan yang diembannya saat ini. Ia menegaskan bahwa seluruh aset tersebut merupakan murni hasil keringatnya jauh sebelum ia menyentuh kursi Wakil Komite CSR.
“Apa mereka tahu beban hidup saya selama ini, dengan seenaknya berbicara begitu kepada saya? Perlu digarisbawahi, semua ini saya dapatkan sebelum saya ditunjuk sebagai wakil komite,” tegasnya merinci multi-profesi yang digelutinya.
Ia membeberkan rekam jejak pekerjaannya yang panjang di wilayah Morowali Utara:
* Hampir 10 tahun bekerja di PT COR.
Lebih dari 10 tahun dipercaya sebagai Bendahara TKBM.
* Aktif bergerak sebagai kontraktor dengan beberapa proyek yang berhasil didapatkan.
“Jadi bukan cuma satu pekerjaan yang saya jalani. Apa yang saya dapatkan saat ini merupakan murni hasil jerih payah saya selama ini. Lantas kenapa dituduhkan seperti itu? Ingat, jika tuduhan ini tidak benar, ada konsekuensi serius,” jelas Aty mengingatkan pihak penuduh mengenai implikasi hukum jika tidak mampu membuktikan tuduhannya secara sah.
Sindir Kompetensi “Auditor Jalanan” dan Tegaskan Hak Prerogatif Kades
Tidak berhenti di situ, Aty melayangkan kritik tajam terhadap metode penilaian publik yang hanya berbasis pada asumsi dan kabar burung. Menurutnya, tata kelola dana CSR Desa Ganda-ganda dijalankan dengan prinsip administrasi yang ketat dan transparan.
“Dana CSR Desa Ganda-ganda itu diurus pakai laporan tertulis, bukan pakai laporan ‘katanya si A’ atau ‘menurut si B’. Kalau mau jadi auditor, sekolah dulu yang tinggi, jangan cuma modal bibir luwes,” cetus Aty dengan kalimat yang sangat menohok.
Ia juga menambahkan bahwa posisi administratif yang ia duduki saat ini adalah bukti nyata dari kepercayaan penuh otoritas tertinggi desa. Jika kinerjanya bermasalah atau menyalahi aturan, aturan birokrasi sudah pasti mendepaknya dari jabatan tersebut.
“Kalau memang saya bekerja tidak bagus sebagai wakil komite, tentu saya sudah lama diberhentikan oleh Kades. Karena hal ini merupakan prerogatif Pak Kades,” tambahnya.
Serukan Persatuan Warga: Jangan Biarkan Orang Luar Mengatur Kedamaian
Ganda-ganda
Menutup pernyataannya, Aty Landoala memberikan pesan mendalam sekaligus ajakan kepada seluruh masyarakat Desa Ganda-ganda agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang diembuskan oleh pihak luar demi kepentingan tertentu.
“Setiap kali ada isu miring yang masuk ke desa kita, tanyakan pada diri kita apakah ini akan membangun desa kita atau justru merusaknya? Seringkali, orang luar hanya ingin melihat kita gaduh tanpa memberikan solusi apa pun bagi kemajuan Ganda-ganda,” imbaunya.
Aty juga meminta warga untuk mengedepankan asas klarifikasi (tabayun) agar keharmonisan internal desa tetap terjaga dengan baik.
“Oleh karena itu, mari kita saring setiap informasi dengan bijak dan tabayun. Mari kita kembali bersatu mendukung jalannya roda pemerintahan desa demi kesejahteraan kita bersama. Jangan biarkan orang luar mengatur kedamaian di rumah kita sendiri,” pungkas Aty menutup pembelaannya. (Red)
(Antonius W Palunsu)
Dengan nada bicara yang memadukan humor satir dan sindiran menohok, Aty balik menyerang para pengkritik yang dinilainya hanya bermodal rumor tanpa dasar data.
“Uang apa yang saya cuci? Kalau uang dicuci tentunya robek, seperti mulut orang yang memberikan tuduhan kepada saya,” ujar Aty Landoala saat memberikan keterangan media melalui WhatsApp Selasa (7/9/2026) menanggapi isu yang telanjur menggelinding liar di tengah masyarakat.
Gugat Logika Pengkritik, Beberkan Rekam Jejak 10 Tahun
Aty meradang ketika harta kekayaan pribadinya mulai dari kepemilikan bisnis kos-kosan hingga unit mobil dikait-kaitkan dengan jabatan yang diembannya saat ini. Ia menegaskan bahwa seluruh aset tersebut merupakan murni hasil keringatnya jauh sebelum ia menyentuh kursi Wakil Komite CSR.
“Apa mereka tahu beban hidup saya selama ini, dengan seenaknya berbicara begitu kepada saya? Perlu digarisbawahi, semua ini saya dapatkan sebelum saya ditunjuk sebagai wakil komite,” tegasnya merinci multi-profesi yang digelutinya.
Ia membeberkan rekam jejak pekerjaannya yang panjang di wilayah Morowali Utara:
* Hampir 10 tahun bekerja di PT COR.
Lebih dari 10 tahun dipercaya sebagai Bendahara TKBM.
* Aktif bergerak sebagai kontraktor dengan beberapa proyek yang berhasil didapatkan.
“Jadi bukan cuma satu pekerjaan yang saya jalani. Apa yang saya dapatkan saat ini merupakan murni hasil jerih payah saya selama ini. Lantas kenapa dituduhkan seperti itu? Ingat, jika tuduhan ini tidak benar, ada konsekuensi serius,” jelas Aty mengingatkan pihak penuduh mengenai implikasi hukum jika tidak mampu membuktikan tuduhannya secara sah.
Sindir Kompetensi “Auditor Jalanan” dan Tegaskan Hak Prerogatif Kades
Tidak berhenti di situ, Aty melayangkan kritik tajam terhadap metode penilaian publik yang hanya berbasis pada asumsi dan kabar burung. Menurutnya, tata kelola dana CSR Desa Ganda-ganda dijalankan dengan prinsip administrasi yang ketat dan transparan.
“Dana CSR Desa Ganda-ganda itu diurus pakai laporan tertulis, bukan pakai laporan ‘katanya si A’ atau ‘menurut si B’. Kalau mau jadi auditor, sekolah dulu yang tinggi, jangan cuma modal bibir luwes,” cetus Aty dengan kalimat yang sangat menohok.
Ia juga menambahkan bahwa posisi administratif yang ia duduki saat ini adalah bukti nyata dari kepercayaan penuh otoritas tertinggi desa. Jika kinerjanya bermasalah atau menyalahi aturan, aturan birokrasi sudah pasti mendepaknya dari jabatan tersebut.
“Kalau memang saya bekerja tidak bagus sebagai wakil komite, tentu saya sudah lama diberhentikan oleh Kades. Karena hal ini merupakan prerogatif Pak Kades,” tambahnya.
Serukan Persatuan Warga: Jangan Biarkan Orang Luar Mengatur Kedamaian
Ganda-ganda
Menutup pernyataannya, Aty Landoala memberikan pesan mendalam sekaligus ajakan kepada seluruh masyarakat Desa Ganda-ganda agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang diembuskan oleh pihak luar demi kepentingan tertentu.
“Setiap kali ada isu miring yang masuk ke desa kita, tanyakan pada diri kita apakah ini akan membangun desa kita atau justru merusaknya? Seringkali, orang luar hanya ingin melihat kita gaduh tanpa memberikan solusi apa pun bagi kemajuan Ganda-ganda,” imbaunya.
Aty juga meminta warga untuk mengedepankan asas klarifikasi (tabayun) agar keharmonisan internal desa tetap terjaga dengan baik.
“Oleh karena itu, mari kita saring setiap informasi dengan bijak dan tabayun. Mari kita kembali bersatu mendukung jalannya roda pemerintahan desa demi kesejahteraan kita bersama. Jangan biarkan orang luar mengatur kedamaian di rumah kita sendiri,” pungkas Aty menutup pembelaannya. (Red)
(Antonius W Palunsu)






