SULTENG (POSO) Minggu 13 September 2026 – Aksi heroik bercampur haru mewarnai musibah kebakaran hebat yang melanda SMA Negeri 1 Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada Minggu (13/9/2026) siang. Di tengah kepungan asap hitam yang pekat dan hawa panas yang menyengat, para guru bersama para siswa nekat menerobos area sekolah demi menyelamatkan dokumen-dokumen penting dan inventaris berharga.
Kebakaran ini dipicu oleh rembetan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dari kawasan lahan gambut di Desa Pasir Putih yang bergerak cepat akibat hembusan angin kencang. Sekitar pukul 12.24 WITA, lidah api mulai menyergap kompleks sekolah.Melihat bahaya yang mengancam fasilitas pendidikan mereka, para guru dan siswa yang berada di lokasi tidak tinggal diam.
Dengan peralatan seadanya dan masker pelindung darurat, mereka saling bekerja sama mengevakuasi berkas administrasi, rapor, hingga perangkat komputer dari dalam ruangan sebelum kobaran api semakin membesar. Salah satu aksi yang menuai simpati di lapangan datang dari para siswa kelas 11 yang sigap membantu pemadaman awal.
Sayangnya, keganasan si jago merah sulit dibendung dengan peralatan manual. Sedikitnya 9 ruang kelas dilaporkan ludes terbakar dan kini hanya menyisakan puing-puing arang.
Hingga Minggu malam, tim gabungan dari TNI, Polri, BPBD Poso, Damkar, dan Manggala Agni terus berjibaku mengisolasi titik api. Kebakaran lahan gambut dan perkebunan di wilayah tersebut diperkirakan telah menghanguskan total 50 hektare lahan dan posisinya kini kian mengancam pemukiman penduduk serta jalur ekonomi Jalan Poros Trans Sulawesi.
Pihak berwenang memastikan tidak ada korban jiwa atau luka dari aksi penyelamatan dramatis ini. Namun, duka mendalam kini menyelimuti keluarga besar SMAN 1 Pamona Selatan yang harus kehilangan fasilitas belajar mengajar mereka dalam sekejap.(Red)
(AWP)
Kebakaran ini dipicu oleh rembetan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dari kawasan lahan gambut di Desa Pasir Putih yang bergerak cepat akibat hembusan angin kencang. Sekitar pukul 12.24 WITA, lidah api mulai menyergap kompleks sekolah.Melihat bahaya yang mengancam fasilitas pendidikan mereka, para guru dan siswa yang berada di lokasi tidak tinggal diam.
Dengan peralatan seadanya dan masker pelindung darurat, mereka saling bekerja sama mengevakuasi berkas administrasi, rapor, hingga perangkat komputer dari dalam ruangan sebelum kobaran api semakin membesar. Salah satu aksi yang menuai simpati di lapangan datang dari para siswa kelas 11 yang sigap membantu pemadaman awal.
Sayangnya, keganasan si jago merah sulit dibendung dengan peralatan manual. Sedikitnya 9 ruang kelas dilaporkan ludes terbakar dan kini hanya menyisakan puing-puing arang.
Hingga Minggu malam, tim gabungan dari TNI, Polri, BPBD Poso, Damkar, dan Manggala Agni terus berjibaku mengisolasi titik api. Kebakaran lahan gambut dan perkebunan di wilayah tersebut diperkirakan telah menghanguskan total 50 hektare lahan dan posisinya kini kian mengancam pemukiman penduduk serta jalur ekonomi Jalan Poros Trans Sulawesi.
Pihak berwenang memastikan tidak ada korban jiwa atau luka dari aksi penyelamatan dramatis ini. Namun, duka mendalam kini menyelimuti keluarga besar SMAN 1 Pamona Selatan yang harus kehilangan fasilitas belajar mengajar mereka dalam sekejap.(Red)
(AWP)






