Ketika Bupati Gowa Memilih Melihat Persoalan dari Dekat
Gowa-burusergapinfo.my.id-“Ada persoalan yang tidak selesai hanya dengan rapat. Ada masalah yang tidak cukup dijelaskan melalui laporan. Dan ada pelayanan publik yang baru benar-benar dapat dipahami ketika seorang pemimpin datang sendiri melihat kenyataan di lapangan.

Persampahan adalah salah satunya.
Ketika tumpukan sampah, kelancaran pengangkutan, hingga akses menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi perhatian masyarakat, persoalannya tidak lagi sekadar tentang sampah yang harus diangkut dan dibuang.
Di baliknya terdapat wajah pelayanan publik, kesehatan lingkungan, kesiapan armada, tata kelola TPA, pembiayaan, hingga tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.

Dalam konteks itulah, Bupati Gowa Dr. Hj. Sitti Husniah Talenrang, S.E., M.M., memilih turun langsung meninjau kondisi TPA.Bersama HJ Ria Effendi Sosok Pengusaha Yang telah memngirban Lahat seluas 1 Hektar untuk pembuangan Sampah.
Langkah tersebut menjadi sebuah pesan bahwa persoalan di lapangan perlu dilihat secara langsung sebelum dirumuskan menjadi kebijakan.
Bukan sekadar menerima laporan.
Bukan pula berhenti pada rapat.
Tetapi melihat sendiri bagaimana sebuah persoalan berlangsung di titik paling akhir dari perjalanan sampah.
SATU KALIMAT, SEBUAH PEKERJAAN BESAR

Di tengah persoalan persampahan yang beberapa hari terakhir menjadi perhatian, terutama berkaitan dengan pengangkutan dan akses menuju TPA, Bupati Gowa menyampaikan kalimat singkat:
“Insya Allah ada solusinya.”
Kalimat itu tentu belum menjadi penyelesaian.
Namun, bagi sebuah pemerintahan, kalimat tersebut semestinya menjadi pintu masuk menuju pekerjaan yang lebih konkret: mengidentifikasi persoalan, menentukan langkah,
menggerakkan perangkat daerah, memperkuat koordinasi, dan memastikan kebijakan berjalan di lapangan.-“Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan janji bahwa masalah akan diselesaikan.
Masyarakat membutuhkan pelayanan yang benar-benar kembali bekerja.

Di sinilah ukuran sebuah solusi sesungguhnya diuji.
SAMPAH BUKAN SEKADAR PERSOALAN KOTOR DAN BERSIH
Persampahan merupakan mata rantai panjang.-“Dari rumah tangga, lingkungan permukiman, tempat penampungan, armada pengangkut, hingga TPA, setiap tahapan saling berkaitan.
Ketika satu mata rantai terganggu, dampaknya dapat merambat ke berbagai wilayah.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan semata-mata:
Siapa yang salah?
Tetapi jauh lebih penting:
Apa yang menjadi masalah, bagaimana solusinya, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana memastikan solusi tersebut berjalan secara berkelanjutan?
Rangkaian itu dapat dirumuskan secara sederhana:
KELUHAN → IDENTIFIKASI → SOLUSI → KOLABORASI →

TINDAKAN → PENGAWASAN.
Pada titik inilah kehadiran kepala daerah di lapangan memperoleh maknanya.-“TPA bukan sekadar tempat terakhir sampah dibuang.
TPA adalah salah satu simpul penting dalam sistem pengelolaan persampahan daerah. -“Jika simpul tersebut bermasalah, dampaknya dapat kembali ke tengah masyarakat.
DARI UCAPAN MENUJU TINDAKAN
Kehadiran Bupati di TPA pada akhirnya akan memiliki makna yang lebih besar apabila diterjemahkan ke dalam langkah-langkah nyata.
Pengangkutan harus berjalan secara efektif.-“Pengelolaan TPA perlu terus dibenahi. ‘Ketersediaan armada dan dukungan operasional harus mendapat perhatian.
Sistem pengawasan perlu diperkuat. -“Dan yang tidak kalah penting, masyarakat harus ditempatkan sebagai bagian dari solusi. Sebab pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian menghadapi persoalan sampah.
Pemerintah bekerja. Masyarakat bergerak. -“Dunia usaha berkolaborasi.
Ketiganya membutuhkan satu tujuan: membangun lingkungan Gowa yang lebih bersih, sehat, dan tertata.
KETIKA SAMPAH DAPAT MENJADI NILAI

Di balik persoalan sampah terdapat peluang yang sering kali belum dimanfaatkan secara maksimal.
Pemilahan sejak dari sumber, pengurangan sampah, bank sampah, daur ulang, hingga pengolahan kembali dapat membuka ruang bagi lahirnya ekonomi berbasis lingkungan.
Sampah tidak seluruhnya harus berakhir sebagai beban.
Sebagian dapat dipilah.
Sebagian dapat diolah.
Sebagian dapat dimanfaatkan kembali.
Pada titik itu, pengelolaan sampah tidak lagi semata-mata berbicara mengenai bagaimana membuang sesuatu, tetapi bagaimana mengubah sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat.
Semangat Gowa Annangkasi dapat menemukan bentuk konkretnya melalui gerakan semacam ini.
Dari sampah lahir kesadaran.
Dari kesadaran lahir gerakan.
Dari gerakan lahir kolaborasi.
Dan dari kolaborasi dapat terbuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
PEMIMPIN TIDAK SELALU HARUS BERADA DI BALIK MEJA

Ada satu pesan yang dapat dibaca dari langkah Bupati Gowa turun langsung ke TPA.
Bahwa pemerintahan tidak selalu cukup dijalankan dari balik meja.
Ada persoalan yang harus dilihat dengan mata sendiri.
Ada kondisi yang harus didengar langsung dari lapangan.
Ada kenyataan yang terkadang berbeda antara laporan di atas kertas dan keadaan yang sesungguhnya.
Namun, turun ke lapangan hanyalah satu bagian dari kepemimpinan.
Bagian berikutnya adalah bagaimana temuan tersebut dibawa kembali ke meja pemerintahan untuk diterjemahkan menjadi kebijakan, anggaran, koordinasi, tindakan, dan pengawasan.
Di sanalah kepemimpinan diuji.
Kehadiran adalah awal.
Tindakan adalah jawaban.
Hasil adalah ukuran.
DARI TEMPAT PEMBUANGAN, MENUJU PERUBAHAN

TPA selama ini sering dipandang sebagai ujung perjalanan sampah.
Tetapi dari tempat itulah seharusnya dimulai evaluasi terhadap seluruh sistem pengelolaan sampah.
Jika persoalan ditemukan di ujung, maka mata rantainya harus diperiksa dari hulu. -“Bagaimana masyarakat membuang sampah.
Bagaimana sampah dipilah.
Bagaimana armada bekerja.
Bagaimana pengangkutan diatur.
Bagaimana TPA dikelola.
Dan bagaimana pemerintah memastikan seluruh sistem tersebut berjalan secara berkelanjutan.
Karena Gowa bersih bukan pekerjaan satu orang, bukan pula pekerjaan satu instansi. -“Ia adalah pekerjaan bersama.
Pemerintah memiliki kewajiban memastikan pelayanan publik berjalan. -‘Masyarakat memiliki tanggung jawab menjaga lingkungan. -“Dunia usaha memiliki ruang untuk ikut berkolaborasi.
Ketika ketiganya bertemu dalam satu gerakan, persoalan sampah dapat ditangani secara lebih menyeluruh.
Pada akhirnya, kunjungan Bupati Gowa ke TPA bukan sekadar sebuah agenda lapangan. – “Ia menjadi pengingat bahwa di balik setiap persoalan publik terdapat manusia yang menunggu pelayanan. -“Dan di balik setiap masalah, selalu ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Dari balik meja menuju lapangan.
Dari keluhan menuju identifikasi.
Dari identifikasi menuju tindakan.
Dan dari tempat yang selama ini dianggap sebagai ujung perjalanan sampah, dapat dimulai perjalanan baru menuju Gowa yang lebih bersih, sehat, tertata, dan mampu melihat sampah sebagai bagian dari peluang ekonomi masyarakat.”(Red)’
Laporan : Tim.Burusergapinfo.Sul Sel.