Rabu, 8 Juli 2026
SAMOSIR | https://Burusergapinfo My.id



Dentuman bidak catur kembali menggema di tanah Batak. Rabu, 8 Juli 2026, aula tempat Kejuaraan Provinsi dan Kejuaraan Junior Provinsi Percasi Sumut 2026 di Samosir dipenuhi semangat. Di tengah keramaian itu, 5 pecatur senior utusan Percasi Kabupaten Padang Lawas tampil dengan kepala tegak, siap mengibarkan nama “Bumi Dalihan Natolu” di kancah provinsi.


Mereka bukan wajah baru. Mereka adalah para “pejuang papan 64 kotak” yang sudah kenyang asam garam turnamen. Kedatangan mereka ke Samosir menjadi sinyal kuat: Percasi Padang Lawas belum mati. Percasi Padang Lawas bangkit.
Dengan seragam sederhana namun sorot mata penuh keyakinan, kelima atlet ini berpose di depan spanduk besar bertuliskan “Selamat Bertanding Para Peserta KEJURPROV & KAJURPROV TAHUN 2026 PERCASI SUMUT”.
Inilah skuad yang diberangkatkan Percasi Padang Lawas:
1. Rasoki Hasibuan – Senior tenang, pembaca langkah paling sabar
2. Nobon Harahap – Tipe petarung, tidak kenal mundur selangkah
3. Haposan Harahap – Strategi klasik, pembuka mematikan
4. Rosuan Siahaan – Veteran pengalaman, penyeimbang tim
5. Jauari Damanik – Kuda hitam, kejutan dari Padang Lawas
Kelima nama ini mewakili lebih dari sekadar individu. Mereka membawa harapan ratusan pecatur muda di Padang Lawas, Sibuhuan, Barumun, dan seluruh penjuru kabupaten.
Datang ke Samosir Bawa Misi: Mengembalikan Marwah Catur Palas,
Selama beberapa tahun terakhir, nama Padang Lawas memang jarang terdengar di event provinsi. Keterbatasan dana, pembinaan, dan regenerasi jadi kendala. Tapi tahun ini berbeda.
“Ini bukan sekadar ikut-ikutan. Kami datang untuk menang dan untuk membuktikan kalau orang Padang Lawas bisa bersaing,” tegas Rasoki Hasibuan sebelum babak pertama dimulai.
Nobon Harahap menambahkan, atmosfer Kejurprov di Samosir tahun ini luar biasa. “Lawan-lawan berat semua. Ada Medan, Deli Serdang, Binjai. Tapi kami tidak gentar. Justru itu cambuk buat kami biar makin tajam,” katanya sambil tertawa.
Kejurprov 2026: Lebih dari Sekadar Perebutan Juara,
Event yang digelar Percasi Sumut di Samosir ini memang spesial. Selain memperebutkan gelar juara provinsi, kejuaraan ini juga jadi ajang seleksi atlet untuk Porwil dan Pra-PON mendatang.
Pesertanya datang dari 30+ kabupaten/kota. Dari anak SD yang masih malu-malu sampai kakek-kakek yang sudah 40 tahun pegang catur. Kategori yang dipertandingkan juga lengkap: usia dini, remaja, senior, dan veteran.
Bagi Padang Lawas, turun di kategori senior/veteran punya makna strategis. “Senior itu guru. Kalau seniornya kuat, juniornya akan ikut kuat. Mereka ini panutan,” ujar salah satu pengurus Percasi Sumut yang hadir.
Dukungan dan Harapan Besar dari Kampung Halaman,
Keberangkatan tim ini juga jadi bukti kepengurusan Percasi Padang Lawas yang baru mulai bergerak. Meski dengan anggaran terbatas, mereka tetap berangkatkan tim terbaik.
“Kami mohon doa dari seluruh masyarakat Padang Lawas. Doakan kami bisa bawa pulang medali. Sekecil apapun medali itu, artinya besar untuk harga diri daerah kita,” pesan Haposan Harahap.
Rosuan Siahaan dan Jauari Damanik juga kompak menyatakan siap tempur. Mereka mengaku sudah latihan intensif 2 bulan terakhir, membedah partai-partai master dunia dan mengasah pembukaan andalan.
Samosir, Panggung yang Sempurna,
Bermain catur sambil memandang keindahan Danau Toba tentu punya efek psikologis tersendiri. Udara sejuk Samosir membuat para pecatur bisa berpikir lebih jernih. Panitia juga menyiapkan papan, jam, dan wasit berstandar nasional.
Target Percasi Padang Lawas di kejuaraan ini realistis: masuk 3 besar kategori beregu senior, dan minimal 2 atlet lolos ke babak final perorangan.
“Kalau bisa juara 1, itu bonus. Tapi yang paling penting, kami pulang dengan kepala tegak dan membawa pengalaman untuk dibagikan ke adik-adik di Palas,” tutup Jauari Damanik.
Langkah Rasoki, Nobon, Haposan, Rosuan, dan Jauari di Samosir ini bukan akhir. Ini awal. Awal kebangkitan. Awal bukti bahwa catur di Padang Lawas masih hidup dan akan terus hidup.
Selamat bertanding para ksatria Padang Lawas! Buktikan bahwa langkahmu di papan catur, sama kokohnya dengan semangat Dalihan Natolu.
Reporter : Subandi



