Gowa.Sul-Sel-burusergapinfo.my.id.-“Ketika energi bersubsidi seharusnya hadir untuk meringankan beban rakyat, sebagian warga justru kembali berhadapan dengan asap kayu bakar.
Kelangkaan LPG 3 kilogram di sejumlah wilayah Kecamatan Bajeng Barat, Kabupaten Gowa, mulai memukul kebutuhan rumah tangga dan memaksa sebagian ibu-ibu mencari alternatif untuk memasak.

Kondisi ini bukan lagi sekadar persoalan sulit mendapatkan tabung gas. “Tapi di sebabkan kurangnya pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi baik Jenis Pertalite dam Solar sehinga warga tani terpaksa menggunakan Gas Elpiji 3 Kg. Khusus warga miskin yang untuk di gunakan di rumahtangga. Namu oleh petani mala di gunakan untuk di pakai di mesin pompanis pengisap air di arel sawa. “Sehingga ibu ibu harus beralih ke kayu bakar untuk memasak.
Ini alarm keras bagi pemerintah.
LPG 3 kg merupakan salah satu kebutuhan energi penting bagi masyarakat yang menjadi sasaran subsidi. -Ketika pasokannya tersendat, dampaknya langsung terasa di dapur-dapur rumah tangga.

Ironisnya, di tengah persoalan tersebut, masyarakat juga menghadapi keluhan mengenai tersendatnya pasokan BBM bersubsidi di sejumlah SPBU.
Dua kebutuhan energi rakyat mengalami tekanan dalam waktu yang berdekatan.
Pertanyaan publik pun mengemuka:
APAKAH SISTEM DISTRIBUSI ENERGI BERSUBSIDI SEDANG BERMASALAH?
Pemerintah tidak boleh memandang persoalan ini sebagai keluhan biasa.
Jika benar terjadi keterbatasan pasokan LPG 3 kg, pemerintah bersama pihak terkait perlu segera membuka kondisi distribusi secara terang kepada masyarakat—mulai dari ketersediaan pasokan, jalur distribusi, kuota, hingga pengawasan di tingkat agen dan pangkalan.

Begitu pula dengan BBM bersubsidi. Bila masyarakat harus menghadapi antrean panjang atau kesulitan memperoleh BBM, persoalan tersebut patut dievaluasi secara menyeluruh.
JANGAN SAMPAI RAKYAT MENJADI KORBAN RANTAI DISTRIBUSI
Subsidi diberikan dengan tujuan membantu masyarakat. -Karena itu, ketika barang bersubsidi sulit diperoleh oleh masyarakat yang membutuhkan, maka pemerintah perlu segera mencari titik persoalannya. -Jangan sampai subsidi tersedia di atas kertas, tetapi sulit ditemukan ketika rakyat membutuhkannya.

Kondisi ibu rumah tangga yang kembali menggunakan kayu bakar seharusnya menjadi perhatian serius. -Sebab persoalan energi rumah tangga bukan sekadar angka dalam laporan distribusi.
Di balik satu tabung LPG yang sulit ditemukan, ada keluarga yang harus tetap memasak. Ada kebutuhan makan yang tidak bisa ditunda. Ada beban ekonomi yang akhirnya kembali dipikul masyarakat.

PEMERINTAH DITANTANG HADIR, BUKAN SEKADAR MENJELASKAN
Pemerintah Kabupaten Gowa bersama instansi terkait diharapkan segera melakukan pengecekan langsung di lapangan.
Pastikan LPG 3 kg tersedia sesuai kebutuhan masyarakat sasaran.
Pastikan harga tetap terkendali.
Pastikan distribusinya tepat sasaran.
Dan yang tidak kalah penting, lakukan evaluasi terhadap persoalan pasokan BBM bersubsidi di SPBU.
Masyarakat tidak membutuhkan polemik.

Masyarakat membutuhkan gas untuk memasak dan BBM untuk menjalankan kehidupan sehari-hari.
Kembalinya asap kayu bakar ke dapur-dapur warga Bajeng Barat harus dibaca sebagai peringatan keras bahwa persoalan distribusi energi bersubsidi tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Jika energi bersubsidi ditujukan untuk rakyat, maka rakyat pula yang harus menjadi prioritas pertama dalam distribusinya.
Kini publik menunggu satu hal:
LANGKAH NYATA PEMERINTAH.
“(Red)” MZ.NA.
Laporan : Tim.Buserinfo.Sulsel.






